Senin, 18 Februari 2019

SAMPAH TAK MENGENAL STATUS


Sampah adalah suatu masalah yang dihadapi hampir diseantero negeri. Dari organic hingga anorganik bertebaran pada wajah bumi yang diketahui ozonnya makin menipis.

Bukan rahasia umum bahwa ketika berbicara tentang sampah tidak sekedar mengemukakan teori ataupun hanya mengungkapkan suatu opini namun membutuhkan partisipasi dan tindakan nyata dari semua penghuni bumi terutama rakyat di negeri ini.


Ketika terjadi suatu masalah yang disebabkan oleh sampah banyak orang yang saling melempar kesalahan dan adu argumentasi dengan ragam opini tapi sampah terus berjibun seperti buih.

Ada yang mempersoalkan tidak adanya fasilitas sebagai tempat pembuangan, ada juga yang menyalahkan pengambil kebijakan yang tidak tanggap darurat atas sampah yang kian berjejeran. Ya, sah-sah saja semua opini dari masyarakat. Namun ketika bicara soal sampah bukan sekedar opini tapi butuh kesadaran karena semua orang dimuka bumi ini adalah penghasil sampah yang sewaktu-waktu dapat membahayakan lingkungan dan bumi pada umumnya.

BACA JUGA  : ENDE DAN SAMPAH

Peduli terhadap lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah ataupun para pekerja lingkungan tapi tanggung jawab semua pihak. Menangani sampah tak memandang jabatan, pangkat, golongan ataupun status sosial.

Karena suatu saat kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun sampah dapat membawa bahaya bagi setiap warga maupun generasi yang akan datang. Sudah banyak tayangan, sudah banyak informasi yang dipublikasikan tentang dampak dari sampah. 

Namun kelakukan manusia masih belumlah sadar akan bahaya sampah. Mungkin menunggu bencana dari Sang Pencipta dan murkanya alam akan sombongnya  manusia mungkin disaat iu barulah orang sadar.

 


Senin, 21 Januari 2019

ENDE DAN SAMPAH

Pada Senin, 14 Januari 2019 menjadi hari yang mengagetkan bagi publik NTT. Kementrian LHK  mengumumkan bahwa ada empat kota di NTT yang masuk dalam kategori kota terkotor yaitu Kota Kupang, Kota Ruteng, Kota Bajawa dan Kota Waikabubak.

Cuitan nitizen NTT bertebaran di media sosial menanggapi  nominasi kota terkotor tersebut. Ada yang protes, ada yang menanggapinya secara positif dan ada juga yang hanya adem-adem ayem dalam merespon berita tersebut.

Kemudian ada juga nitizen yang bangga karena kotanya tidak masuk dalam kategori terkotor. “Namun pertanyaannya apakah tidak ada sampah yang bertebaran di kota-kota lain di NTT?” “Tentu tidak”. 

Semua pasti melihat dan memperhatikan bahwa sampah juga ada di beberapa kota yang tidak masuk nominasi tersebut. Mungkin  dalam standar penilaian kategori yang lain bisa terpenuhi sehingga beberapa kota di NTT tidak masuk dalam penilaian kota terkotor. Misalnya kota Ende yang merupakan Kota sejarah, Kota lahirnya Pancasila.

Sumber Foto : FB. Dieogo Armando Abdullah
Tidak bisa dipungkiri bahwa di Ende sampah juga bertebaran baik dalam kota maupun dipinggir kota bahkan hingga ke pantai dan lautan. Banyak nitizen yang mengupload foto-foto tentang sebaran sampah. Kemudian ada yang menanggapinya  secara beragam. Jika di ikuti dalam jagat medsos ada nitizen yang menyalahkan pihak pemerintah karena tidak cekatan dalam menanggapi persoalan sampah di Ende.

Sah-sah saja dan tidak ada yang salah dengan ragam penilaian tersebut. Pemerintah memang perlu menyiapkan regulasi, manajemen, fasilitas dan edukasi tentang sampah. 

Namun mari berpikir secara fair dan jernih. Dari manakah asal sampah-sampah yang bertebaran? Tentu sumbernya dari semua komponen yang ada di kota tersebut baik itu produsen, distributor maupun konsumen yang merupakan penghasil sampah.


Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sampah dapat membawa petaka meskipun ada juga yang membawa berkah. Akan tetapi yang terlihat selama ini dampak negatif dari sampah sudah banyak yang merasakannya. Ketika musim hujan kerap kali terjadi banjir karena saluran pembuangan tertutup sampah, drainase menjadi sarang nyamuk bahkan hingga bandara Ende pernah terkena dampak karena sampah.

Kemudian ketika masing-masing komponen sebagai penghasil sampah tersebut saling melempar kesalahan maka penanganan sampah tidak akan pernah terselesaikan. Harusnya berbagai komponen juga berpikir dan beraksi dalam dalam menanganinya. Sudah tidak waktunya saling melempar kesalahan dalam menangani sampah yang kian bertebaran.

Maka disini yang dibutuhkan adalah kesadaran dan komitmen dari setiap warga bukan hanya beberapa pihak yang bertanggung jawab baik itu pemerintah ataupun para pemerhati lingkungan. Penangananan sampah tidak sekedar hanya pembicaraan atau retorika namun perlu aksi nyata.

Di sisi lain banyak juga nitizen NTT termasuk di Ende yang memposting gambar-gambar keindahan dan bersihnya beberapa kota lain di Indonesia seperti Kota Surabaya yang meraih penghargaan Nasional hingga Internasional. Entah motivasinya adalah untuk membandingkan atau menggambarkan sebuah mimpi. Akan tetapi jika diterjemahkan  cuitan nitizen mungkin itu adalah ekspresi akan kerinduan dan keinginan akan bersihnya kota. 

Namun hal yang terpenting dan dibutuhkan adalah aksi nyata agar kotanya bisa bersih dan indah. Aksi penanganan sampah bukan karena untuk memperoleh sebuah penghargaan atau penilaian, tapi bersih dan indahnya suatu daerah adalah untuk orang-orang yang ada di daerah sendiri.

Andaikan jika dalam satu hari saja di terapkan “hari bersih sampah” dan semua komponen terlibat dalam aksi nyata penanganan sampah di lingkungannya masing-masing mungkin dalam sekejap kota bisa bersih dan indah. Tapi ini hanya mimpi karena membutuhkan komitmen dan kesadaran.


Minggu, 30 Desember 2018

DANAU KELIMUTU BERUBAH WARNA; APAKAH TANDA-TANDA ALAM?

Danau Kelimutu


Penghujung Tahun 2018  masyarakat Kabupaten Ende dan sebagian nitizen di hebohkan dengan perubahan danau kelimutu. Tahun ini danau kelimutu mengalami perubahan warna yang cukup cepat dan tidak lazim dari sebagaimana  biasanya di bulan februari atau maret.

Sejak tanggal 27 Desember 2018 danau Ata Polo mengalami beberapa kali perubahan dari Hijau kebiruan menjadi hijau, kemudian berubah lagi ke hijau tua lalu  menjadi warna coklat. (Sumber Vox NTT).

Secara ilmiah, perubahan warna ini karena adanya interaksi perubahan vulkanik, geologi dan tensi hujan yang terus menerus. Sudah banyak riset terkait perubahan danau kelimutu. Sejumlah ilmuwan menduga perubahan danau kelimutu karena aktivitas danau yang merupakan gunung berapi, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota, ganggang, zat kimia maupun pantulan warna dinding. Hasil riset juga masih menduga-duga sehingga dapat dikatakan belum ada kepastian tentang penyebab berubahnya danau kelimutu.

Dengan  adanya perubahan warna yang sering sering terjadi hal inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sehingga dapat dikatakan satu-satunya danau yang unik dan selalu berubah warna adalah danau kelimutu yang berada di Ende Flores NTT

Danau Kelimutu Berubah Warna

Namun dalam kepercayaan masyarakat lokal terdapat hal mistis yang sudah melekat pada danau kelimutu. Masing-masing danau di huni oleh arwah orang yang sudah meninggal. Di danau Ata Bupu di huni oleh arwah para orang tua dan leluhur. Danau Ko’o Fai Nuwa Muri di huni oleh  arwah muda mudi dan danau Ata Polo di huni oleh arwah orang-orang yang memiliki magic.  

Menurut kepercayaan masyarakat, ketika salah satu danau atau ketiga danau berubah warna maka akan terjadi sesuatu di negeri ini terkait dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Entah itu siatuasi politik, bencana alam maupun perekonomian bangsa. Dalam kepercayaan masyarakat jika danau tidak berubah dalam satu tahun maka negeri ini dalam kondisi nyaman dan tentram. Namun jika terjadi perubahan warna maka itu menjadi suatu tanda-tanda alam dalam kehidupan berbangsa di negeri ini, (wallahu  A’lam bish shawab).

Ya, ini hanya kepercayaan masyarakat setempat. Namun bila mengikuti pemberitaan di media masa dan dikaitkan dengan berubahan warna danau kelimutu, dalam fakta negeri ini sudah banyak mengalami kemelut politik maupun bencana alam.

Misalnya di tahun 2016 dan 2017. Beberapa kali danau kelimutu berubah warna dan banyak kejadian bencana alam yang melanda negeri ini. Memang dalam perubahan warna tidak beriringan dengan rentetan kejadian bencana alam atau fenomena politik. Namun bagi masyarakat setempat jika terjadi perubahan warna danau, maka cepat atau lambat akan ada kejadian yang menimpa bangsa ini, (wallahu  A’lam bish shawab).

Terlepas ini adalah mitos atau keyakinan masyarakat lokal, namun hal yang utama adalah setiap rakyat di negeri ini sudah saatnya untuk  berbenah diri dan tawakal dengan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Masing-masing menjalankan fungsinya sesuai amanah dari  Tuhan. Baik itu pemimpin maupun rakyat sebagai umat di beri kepercayaan yang sama sebagai khalifah di muka bumi bukan sebagai perusak di muka bumi.

OLEH : X-SAN






Sabtu, 22 Desember 2018

GORESAN CINTA UNTUK SANG IBU



Hari ini memang special untuk para ibu, tapi sayang ibu kami sudah tiada. Ia pun hanya sesaat merasakan kasih sayang dan balas budi dari kami anak-anaknya.

Salam cinta dan sayang dari kami anak-anakmu. Kami yang pernah membuat ibu sedih, menangis, kecewa, dan mungkin tertekan karena tingkah laku kami. Kadang kenakalan kami membuat ibu marah dan mencurahkan air mata meskipun itu tak terlihat. Tapi ibu tetap mengasuh dan mendidik kami dengan tulus .

Ibu, maafkan kami anak-anakmu yang tak dapat membalas jasa ibu dan ayah, kami tak mampu mencintai ibu sebagaimana ibu mencintai kami, kami tak mampu mengasihi ibu sebagaimana  kasih ibu yang tak kenal waktu siang maupun malam.

Kami memang tak melihat ketika Ibu menghadirkan kami ke dunia. 9 bulan 10 hari ibu membebani diri mengandung kami. Ketika mau melahirkan kami, ibu menghadapai  perjuangan antara hidup dan mati. Namun akhirnya kamipun hadir di dunia ini.

Ketika kami kecil, ibu merelakan waktu nyeyak hanya untuk menyusui kami, ketika kami sakit ibu-pun telaten merawat kami hingga kami sembuh dan pulih. Disaat kami terjatuh ibupun membangun kami dengan penuh cinta. Ketika kami pulang sekolah  ibu cepat-cepat menyiapkan makanan agar kami tidak kelaparan,   Diwaktu kami bermain hingga petang ibu mencari dan gelisah karena kami belum pulang. Lalu ketika kami tertidur pulas ibu-pun membangunkan kami dengan kasih karena waktunya sudah pagi

Disaat malam hari,  ibu dan ayah menesahati kami akan arti hidup dan kehidupan, mendidik kami dengan kasih yang tak lekang zaman, memberi pelajaran bagi kami agar kelak kami memiliki bekal dalam mengarungi zaman. Tapi itu hanyalah sebuah kenangan karena Allah lebih menyayangi ibu dan ayah.

Ya, kami memang banyak melakukan kesalahan ketika ibu dan ayah masih ada. Dan kini ketika ibu dan ayah  sudah tiada kami tak dapat memberikan cinta dan kasih meskipun itu memang tidak akan pernah sama.  Kami tak bisa berbakti kepada ibu dan ayah. Dua partener yang selalu bersama dalam suka dan duka untuk membesarkan kami. Hanya do’a yang dapat kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa agar rahmat-Nya selalu tercurah untuk Ibunda terkasih dan Ayahnda tercinta.

Dan untuk saudara-saudaraku yang masih memiliki Ibu dan Ayah, berbaktilah kepada mereka karena sebesar apapun harta kalian namun tak akan pernah dapat membalas jasa mereka. Kasih Ibu sepanjang masa, sayang ayah sepanjang zaman. Mereka tak pernah menuntut balasan dari anak-anaknya tapi mereka merasa berbahagia ketika anaknya besar dan sudah bisa menjalankan hidupnya.
Tetesan air susu ibu menjadikan anak-anaknya besar, tirisan keringat ayah yang tak mengenal siang dan malam agar anaknya bisa makan namun mereka tak pernah mengeluarkan kata lelah dalam membesarkan anak-anaknya.

Janganlah membuat mereka bersedih apalagi menangis hanya karena keangkuhan kita. Panjatlah do’a kepada Sang Kuasa agar rahmat-Nya selalu tercurah untuk ibunda dan ayahnda kita tercinta. Karena Restu Orang Tua terutama Ibu adalah Restunya Tuhan.

Dan untuk semua ibu, kalian adalah pejuang. Pejuang yang melahirkan manusia sebagai khalifah di dunia. Kalian memiliki pekerjaan dan tugas yang sangat mulia sekalipun itu hanya sebagai Ibu rumah tangga. Namun kalianlah penentu pintu surga. Dengan restu dan keiklasan kalianlah seorang anak akan meraih rahmat dari Sang Kuasa. Kalian adalah wanita Super karena seorang Ibu adalah seorang wanita, tapi seorang wanita belum tentu seorang ibu

SELAMAT HARI IBU UNTUK SEMUA IBU DIMANAPUN KALIAN BERADA.

Kamis, 20 Desember 2018

PUNCAK TERTINGGI DARI PERJUANGAN ADALAH CINTA



Judul di atas memang agak sedikit nyeleneh, aneh dan mungkin akan mengundang perdebatan bagi pembaca sekalian. Apalagi banyak kalimat bijak ataupun kata-kata mutiara  yang lazim terdengar bahwa "Puncak tertinggi dari perjuangan adalah kesuksesan, ataupun kebahagiaan". Tapi kali ini tiba-tiba muncul sebuah tulisan yang berjudul “Puncak  Tertinggi dari Perjuangan Adalah Cinta”.

Ya, judul yang nyeleneh di atas bukan untuk gagah-gagahan atau sekedar mengikuti trend seperti  pada  kata-kata indah nan puitis yang banyak ditulis oleh mutiarawan mutiarawati dan pujangga-pujangga  media sosial. Tapi kalimat yang muncul melalui suatu proses permenungan yang panjang dan memiliki makna tersendiri.

Mungkin sebagian akan berargumentasi baik dari segi linguistik maupun dari sisi pemaknaan. Ya, tergantung perspektif masing-masing.

Ketika berbicara tentang cinta mungkin ada juga yang memiliki pandangan dari sisi romantisme yaitu pada ranah “rasa kasih sayang antara dua insan”. Memang lumrah karena itu sudah menjadi pandangan umum ketika berbicara tentang kata yang bernama CINTA.

Tapi pada persepektif yang lain perlu juga pemahaman yang agak sedikit berbeda terkait dengan Cinta. Cinta memiliki objek yang sangat luas dan memiliki aneka makna. Cinta tidak selamanya berkutat pada konteks asmara, kasih sayang, perasaan saling memiliki dan menyayangi antara dua insan namun cinta adalah sisi emosional jiwa yang muncul dari dalam hati akan suatu objek yang berhubungan langsung dengan dirinya.

Sebagai perasaan emosional yang ada dalam jiwa manusia maka cinta itu selalu diwujudkan dalam suatu tindakan nyata. Cinta adalah fitrah manusia yang perlu diungkapkan dengan rasa tanggung jawab. Sehingga manusia akan menunjukan eksistensinya sebagai makhluk ciptaan Allah yang memang diberi kelebihan akan akal budi dan rasa cinta. Segala tindak tanduknya dilandasi rasa cinta dan untuk meraih cinta.

Misalnya, ketika seseorang berjuang untuk merubah nasibnya dengan bekerja keras maka dapat dikatakan  ia mencintai dirinya sendiri, ia mencintai keluarganya. Ketika seseorang sering berbuat baik dan membantu orang lain maka dapat dikatakan ia mencintai sesama manusia.

Ketika ada orang yang selalu memberikan makanan pada binatang, menjaga dan merawat tanaman maka  dapat dikatakan ia mencintai makhluk ciptaan Allah. Ataupun ketika ia rajin beribadah, suka berdzikir dan mengikuti perintah Alquran dan sunah Rasul  maka dapat dikatakan ia mencintai keimanan, cinta kepada Allah, cinta kepada Rasulnya dan ia pun ingin memperoleh cinta dari Allah dan Rasulnya

Cinta yang dimaksudkan disini adalah cinta dalam makna yang luas. Cinta yang tidak dibatasi pada satu perspektif saja seperti romantisme antara seorang pria dan seorang wanita. Sehingga pemaknaan tertinggi akan sebuah perjuangan  adalah cinta. Segala sesuatu yang dilakukan karena cinta dan efeknyapun akan memperoleh cinta baik baik secara vertikal maupun horisontal. Siapapun ingin memperoleh cinta dari sesama, dari alam dan lingkungan maupun dari Sang Pencipta.

Sebagaimana dalam Al-Quran surat Ali Imran Ayat 31 Allah berfirman;

“Katakanlah; Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allahpun mencintai dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” 
(Ali Imran Ayat 31)

Demikian juga dengan Sabda Rasulullah yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah, R.A.
“Allah berfirman, jika hamba-Ku mencintai perjumpaan terhadap-Ku maka Aku-pun mneyukai berjumpa denganya. Sebaliknya jika hamba-Ku tidak suka berjumpa dengan-Ku aka Aku-pun tidak suka berjumpa dengannya”.

Dari hal tersebut maka ketika berbicara tentang cinta maka cinta yang terbesar adalah cinta pada Allah yang muaranya adalah Allah-pun akan mencintai hambanya. Disini terjadi pengakuan cinta dari seorang hamba kepada Penciptanya dan hambah-nyapun ingin memperoleh cinta dari Allah dan Rasulnya. Inilah puncak dari segala perjuangan dan aktifitas kehidupan manusia.

OLE: X-SAN D





Rabu, 19 Desember 2018

MARUNGGE; SI KECIL YANG AJAIB



Pohon Kelor : (Sumber gambar cobaiklasin.com)
Dunia tidak selebar daun  kelor. Itulah peribahasa yang sering didengar jika menasehati orang yang mengalami putus asa karena mengalami kegagalan atau kerugian.  Masih ada cara lain untuk berusaha karena dunia ini sangat luas dan tidak selebar daun kelor. Memangnya seberapa lebar sih daun kelor?  

Ya, kelor memang tidak panjang apalagi  lebar seperti yang sering dijadikan bahan analogi. Lebar daunnya  hanya mencapai 4 mm-1 cm dan panjangnya hanya 1-3cm. Tapi jangan menganggap remeh dengan daun kelor. Khasiatnya lebih panjang dan lebih lebar dari dunia.

Karena itulah sejak masa kampanye sebagai calon gubernur NTT,Victor Bungtilu Laiskodat yang tahu akan potensi kelor di NTT, dalam beberapa orasi politiknya selalu mengatakan agar warga NTT kembali mengkonsumsi daun kelor. Daun kelor kaya manfaat dengan nutrisi yang tinggi. Hingga tekadnya untuk kembangkan tanaman kelor di NTT. Dan sejak terpilih sebagai gubernur NTT, tekad itu terus digalakan hingga saat ini.

Gubernur NTT menanam pohon kelor :
 (Sumber foto : Facebook Umbu Agus Malingara) 
Sebenarnya  daun kelor sudah dikenal oleh masyarakat NTT. Sejak dulu masyarakat NTT sudah sering mengkonsumsi daun kelor namun seiring waktu pola konsumsi masyarakat juga bergeser. Kini gubernur NTT kembali mencanangkan budaya kelorisasi dan gaungnya menggema di seantero penjuru NTT. Kemana-mana pak gubernur terpilih selalu mengkampanyekan warganya untuk membudidayakan serta mengkonsumsi daun kelor.

Kelor atau marungga dan dalam Bahasa Ende Lio disebut wona adalah tanaman  berupa semak atau dapat pula berupa pohon dengan tinggi 12 m dengan diameter 30 cm. Kayunya merupakan jenis kayu lunak dan memiliki kualitas rendah. Daun tanaman kelor memiliki karakteristik bersirip tak sempurna, kecil, berbentuk telur, sebesar ujung jari. Helaian anak daun memiliki warna hijau sampai hijau kecoklatan, bentuk bundar telur atau bundar telur terbalik, panjang 1-3 cm, lebar 4 mm sampai 1 cm, ujung daun tumpul, pangkal daun membulat, tepi daun rata. Kulit akar berasa dan berbau tajam dan pedas, dari dalam berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Tidak keras, bentuk tidak beraturan, permukaan luar kulit agak licin, permukaan dalam agak berserabut, bagian kayu warna cokelat muda, atau krem berserabut, sebagian besar terpisah.*

Kelor yang meskipun berdaun  kecil khasiatnya juga bisa mematikan. Pada masyarakat lokal kelor juga dikenal sebagai daun penetral dan menggugurkan ilmu kekebalan maupun pemilik ilmu hitam dan mengusir makhluk ghaib. Ya, dapat dikatakan si kecil ini sebagai “miracle tree” atau pohon ajaib.

Daun kelor memiliki segudang manfaat baik bagi kesehatan tubuh manusia. Hal tersebut juga dikuatkan dengan hasil yang dikeluarkan oleh Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengatakan bahwa manfaat daun kelor bagi kesehatan di antaranya dapat membantu perkembangan tubuh serta menjadi obat tradisional yang bisa mengobati berbagai macam penyakit.

Tidak hanya itu, ternyata masih banyak manfaat daun kelor bagi kesehatan tubuh. Kandungan asam amino esensial yang terdapat di dalamnya juga bisa membantu perkembangan bayi dalam kandungan. Maka daun kelor juga direkomendasikan bagi ibu-ibu hamil agar kondisi tubuh serta janin yang dikandungnya menjadi lebih baik dan sehat. Apakah sampai di situ saja? Tentu saja tidak, ada manfaat daun kelor bagi kesehatan yang lebih mengejutkan. Berikut daftar manfaat daun kelor untuk kesehatan yang harus Anda ketahui**.

Sumber Gambar : Kelorina.com
Dari berbagai sumber yang dihimpun, daun kelor memiliki banyak manfaat utama yang sangat baik bagi kesehatan tubuh.
Di dalam daun kelor terkadung beberapa vitamin yaitu vitamin Vitamin A (Alpha & Beta carotene), B, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K, folat (asam folat), Biotin. Kemudian juga mengandung  Mineral seperti Kalsium, Kromium, Tembaga, Fluorin, Besi, Mangan, Magnesium, Molybdenum, Fosfor, Kalium, Sodium, Selenium, Sulphur, Zinc.

Asam Amino Esensial ; Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin.
Asam Amino Non-Esensial Alanin, Arginine, asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine. Anti-inflammatory Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6, Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile, Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine, Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan, Tyrosine, Zeatin, Zinc. (Amelia P. Guevara, et al)***.
 
Sumber Gambar : Kelorina.com
Jika dicari pada google pembaca akan menemui banyak situs  yang mengulas tentang manfaat daun kelor. Sehingga tidak mengherankan si kecil ini menjadi perhatian dunia karena kaya akan manfaatnya baik dari sisi kesehatan maupun dari segi lainnya termasuk dalam kepercayaan masyarakat lokal yang berkaitan dengan dunia mistik.

Disisi lain, banyak testimoni peningkatan ekonomi dari para petani kelor. Tanaman kelor menjadi produk ekspor yang bernilai tinggi karena masyarakat dunia banyak yang meminati produk-produk yang berbahan kelor. Sedangkan menurut Istri Gubernur NTT bahwa kualitas kelor NTT nomor dua dunia setelah kelor dari Spanyol.

Dengan program gubernur NTT Bapak Victor Bungtilu Laiskodat untuk menjadikan kelor sebagai tanaman pembawa berkah bagi NTT sehingga sangat diharapkan dukungan dan respon positif dari seluruh masyarakat NTT. Sebagus apapun program pemerintah jika masyarakatnya apatis maka program tersebut hanyalah sebuah catatan di atas kertas. Oleh karena itu saatnya NTT bangkit bersama kelor  si Kecil yang ajaib.


SUMBER BACAAN
           *           =  http://ccrc.farmasi.ugm.ac.id
          **          =  Detikhealt
  ***   = kelorina.com


Senin, 17 Desember 2018

DHERA PAKIA; TRADISI HADIAH BAGI PENGANTIN PADA MASYARAKAT ADAT NDONA

Keluarga berkumpul dan menghidangkan hadiahnya untuk calon pengantin


Menikah adalah suatu moment yang sangat bahagia bagi dua insan manusia.  Seorang wanita dan seorang pria memadukan hatinya  dalam satu ikatan cinta kasih. Semua keluarga sanak saudara dan kerabat kenalan turut mempersiapkan dan ikut merayakan moment ini dengan do’a restu.

Disetiap daerah tentu memiliki tradisi masing-masing dalam rangkaian acara pernikahan. Sekalipun dalam satu daerah bisa saja ada perbedaan adat istiadatnya dalam proses pernikahan. Demikian juga dalam tradisi masyarakat adat Ndona Kabupaten Ende Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Ya, kali ini saya mencoba untuk berbagi tentang salah satu proses dalam acara pernikahan pada masyarakat adat Ndona.

Pada masyarakat adat Ndona salah satu rangkaian dalam acara pernikahan adalah dhera pakia” (hidang pakaian). Secara harafiah “dhera“ artinya hidang dan “pakia” artinya pakaian. Namun dalam pemaknaannya "dhera pakia" merupakan pemberian kenang-kenangan berupa pakian bagi calon pengantin yang berasal dari keluarga dan kerabat dekat pengantin.

Moment ini biasanya dilaksanakan malam hari sebelum seremonial pernikahan yang akan dilangsungkan esok hari. Semua keluarga dan kerabat dekat hadir dengan membawa hadiahnya masing-masing untuk diberikan kepada calon pengantin.

Biasanya pihak-pihak yang akan memberikan hadiah kepada calon pengantin antara lain:
-   Orang tua kandung (jika orang tua kandung semua sudah meninggal maka anak laki-laki pertama yang bertanggung jawab).
-  Saudara  laki-laki yang sekandung ataupun satu keturunan  dengan ayah.
-    Saudara laki-laki yang sekandung dengan calon pengantin wanita.
-    Saudara laki-laki yang sekandung dengan ibu.



Acara ini dihadiri dan dipandu oleh seorang tokoh adat ataupun sesepuh dalam rumpun keluarga yang juga disimbolkan  sebagai saksi pada moment ini.

Masing-masing keluarga ataupun kerabat dekat akan menghidangkan pemberiannya dihadapan calon pengantin wanita dan pria dan hadirin yang lain. Meskipun tidak disebutkan jenis hadiahnya, namun ketika hadiah tersebut dihidangkan, maka pengantin akan melihat hadiah dari masing-masing keluarga tersebut.

Barang yang diberikan  kepada calon pengantin seperti sarung (tenun ikat), ragi mite (kain hitam untuk pria) ataupun sarung tekstil, baju pria maupun baju bodong untuk wanita, sandal, sepatu, dan beberapa aneka pemberian lainnya. Semua jenis pemberian tergantung dari keiklasan dan kemampuan dari keluarga.

Masing-masing keluarga menaruh hadiah pada nyiru atau dulang ataupun  benda lain yang berbentuk ceper dan lebar. Kemudian ketika dipanggil oleh pemandu acara maka istri ataupun saudari dari keluarga yang berkepentingan akan membawa barang pemberian dan menghidangkannya di hadapan pengantin.


Setelah proses ini usai, dimalam itu juga orang tua, paman ataupun yang sesepuh adat akan menasehati calon pengantin berdua tentang kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat. 

Seringkali moment ini terjadi sebagai  moment yang haru karena selain nasehat-menasehati biasanya pengantin wanita ataupun pria akan menyampaikan permohonan maaf dan memohon ijin serta restu dari keluarga karena ia esok akan melangsungkan pernikahan dan memasuki kehidupannya yang baru yaitu kehidupan berumah tangga.

OLEH X-SAN D